Laporan Khusus
Rabu 5 Syaaban 1435 / 4 Juni 2014 08:30
JENDERAL Abdel Fattah al-Sisi akan segera diumumkan sebagai presiden baru di negeri Piramida. Hasil pemilu selama dua hari pekan lalu, kemudian diperpanjang satu hari lagi, menunjukkan bahwa Sisi memenangi pemilu presiden dengan angka yang sangat telak, dan “menakjubkan”—dalam konotasinya yang lain: ia mengantongi lebih dari 90% suara pemilih yang mencoblos.
Ini adalah sejarah baru demokrasi di negara manapun di dunia ini, seorang calon presiden menang meyakinkan dan mutlak, dan Barat serta Amerika tidak memberikan komentar apapun soal kemenangan, yang well, katakanlah janggal itu—alih-alih mengatakannya “menakjubkan” tadi.
Semua orang berhak bertanya, pemilihan presiden tahun ini digelar hanya kurang dari waktu dua tahun belakangan ketika Muhammad Mursi terpilih sebagai presiden sah negeri ini. Sisi, entah bagaimana caranya terlihat legal di mata Barat dan PBB—eh ya, kemana PBB?—mengudeta Mursi dari kursi presiden, dan membantai ribuan orang di jalanan.
Mursi dan para pendukungnya dari Ikhwan saat ini mendekam di penjara Mesir. Dan sementara media-media Barat menyebutkan bahwa Sisi sangat disukai oleh rakyat Mesir, melupakan fakta bahwa hanya sekitar 10% saja dari 56 juta rakyat Mesir yang datang ke TPS.
Ikhwan masuk pada kategori 90% rakyat Mesir yang tidak memilih. Pemerintah al-Sisi sudah ajeg bersikap bahwa Ikhwan akan dihilangkan dari lanskap politik Mesir. Sisi sudah menyatakan bahwa Ikhwan adalah organisasi teroris. Tak ada pilihan untuk rakyat Mesir yang tidak menyukai Sisi, karena baik sang jenderal ataupun rival politiknya, Hamdeen Sabahi, mempunyai komitmen yang kuat menjauhkan Ikhwan dari politik Mesir jika terpilih sebagai presiden. Sementara, Partai Salafi, ketika Mursi disinyalir akan menang langsung memberikan dukungan, sekarang mengecam sikap-sikap berbagai kelompok Islam di Mesir yang tidak mendukung Sisi.
Lantas bagaimana hasil pemungutan suara kali ini berimbas? Kemungkinan terpilihnya Sisi akan memperkuat hubungan Mesir dengan Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Ketiga negara Teluk ini menggelontorkan milyaran dollar untuk mendukung pemerintah Mesir setelah penggulingan mantan Presiden Mursi.
Hubungan dengan Qatar dan Turki, pendukung setia Mursi dan Ikhwan—akan tetap tegang.
Amerika Serikat dan negara-negara Barat akan terus menyuarakan keprihatinan tentang dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Mesir tetapi akan terus menjaga hubungan baik selama Mesir menghormati perjanjian perdamaian dengan Israel dan tidak dipandang sebagai kekuatan yang mengganggu di wilayah yang sudah stabil. Untuk Sisi presiden sebagai presidennya, itu tidak sulit.
Beberapa pekan lai, Presiden al-Sisi akan menjadi frasa yang aneh dan menjadi pukulan telak bagi demokrasi di negara-negara Arab lainnya.Orang Arab bisa jadi akan melupakan Arab Spring. Di Mesir, ada permainan demokrasi yang aneh. Pemilu yang aneh. []
Redaktur: Saad Saefullah
Source: http://ift.tt/1ugvuQv
Category: frontpage
0 Response to "Dagelan Pemilu Mesir"
Posting Komentar
Bagaimana menurut kamu??? hmmmmmmmm @_^;