Breaking News
Loading...

Recent Post

17.6.14
no image

Bekerja 8 Jam di Depan Komputer Bisa Sebabkan Mata Kering


Menatap layar yang lama memiliki tingkat MUC5AC mendekati orang-orang yang didiagnosis menderita sakit mata kering.




PEKERJA kantor yang menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar komputer, mengalami perubahan dalam sekreasi air mata seperti yang dialami penderita penyakit mata kering, demikian menurut hasil studi di Jepang.


Orang-orang yang bekerja terlalu lama menggunakan komputer memiliki sedikit protein MUC5AC, yang dikeluarkan oleh sel-sel pada bagian atas kelopak mata dan menyusun bagian lapisan lendir atau “saput air mata” yang menjaga mata tetap lembab.


Peserta studi dengan waktu menatap layar paling lama memiliki tingkat MUC5AC mendekati orang-orang yang didiagnosis menderita sakit mata kering.


“Untuk memahami pasien dengan mata tegang, yang merupakan salah satu gejala utama penyakit mata kering, penting bagi dokter mata untuk memperhatikan konsentrasi MUC5AC dalam air mata,” kata penulis hasil studi itu, Dr Yuichi Uchino, ophthalmologis atau dokter ahli mata dari School of Medicine di Keio University, Tokyo.


Ia menjelaskan, ketika melihat komputer, waktu berkedip menjadi lebih rendah dibandingkan dengan saat membaca buku di meja.


Orang-orang yang menatap layar komputer juga cenderung membuka kelopak mata lebih lebar saat mengerjakan tugas. Penambahan area permukaan yang terpapar dan frekuensi berkedip yang jarang, bisa meningkatkan penguapan air mata dan berkaitan dengan penyakit mata kering.


Tim pelaksana studi itu memeriksa air mata dari dua mata 96 pekerja kantor di Jepang, sekitar dua pertiga di antaranya laki-laki. Lalu mengukur banyaknya protein MUC5AC dan total kandungan protein air mata.


Selain itu para pekerja yang tugasnya berhubungan dengan layar komputer diminta mengisi kuesioner tentang waktu kerja mereka dan gejala masalah mata yang dialami.


Menurut hasil pemeriksaan, tujuh persen pria dan 14 persen perempuan didiagnosis menderita penyakit mata kering. Artinya mereka melaporkan gejala-gejala gangguan kesehatan mata, seperti iritasi, pandangan kabur, dan kualitas serta kuantitas saput air mata yang buruk.


Secara keseluruhan, peserta yang melihat layar lebih dari delapan jam sehari memiliki rata-rata sekitar 6,8 nanogram MUC5AC per miligram protein pada setiap mata.


Orang-orang yang bekerja menatap layar komputer lebih dari tujuh jam per hari punya rata-rata 5,9 nanogram per miligram MUC5AC, jauh lebih rendah dibandingkan kadar protein pada air mata orang yang dalam sehari hanya menghabiskan lima jam atau kurang di hadapan komputer, dengan 9,6 nanogram per miligram.


Orang-orang yang punya penyakit mata kering juga punya kadar MUC5AC kecil, rata-rata 3,5 nanogram per miligram MUC5AC, jauh lebih rendah dibandingkan kandungan protein pada orang tanpa penyakit mata kering yang sebesar 8,2 nanogram per miligram.


“Mucin adalah salah satu komponen terpenting selaput air mata,” kata Dr. Yuichi Hori, yang tidak menjadi bagian dari studi baru tersebut.


“Fungsi mucin (seperti MUC5AC) untuk menjaga air di permukaan okular dari epitel yang mensintesis mereka. Walhasil, mereka adalah pemain utama dalam pemeliharaan saput air mata pada permukaan okular,” kata Hori, kepala departemen Ophthalmologi di Toho University Omori Medical Center, Tokyo, seperti diberitakan Antara (17/6/2014).


Konsentrasi protein itu juga rendah pada orang-orang yang mengalami gejala ketegangan mata jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mengalaminya, demikian menurut hasil riset yang dipublikasikan di JAMA Ophthalmology.


Lebih lanjut Uchino menjelaskan, menurut hasil studi terkini orang dengan penyakit mata kering cenderung kurang produktif dan lebih mudah tertekan saat bekerja.


Ia mengatakan, para pekerja kantor yang khawatir dengan gangguan mata kering bisa melakukan beberapa perubahan kecil untuk mengurangi risiko.


“Area paparan permukaan okular bisa dikurangi dengan menempatkan terminal lebih rendah dengan layar miring ke atas,” katanya.


Dokter juga menganjurkan penggunaan pelembab di kantor dan menghindari jalur angin langsung dari pendingin udara, serta menggunakan obat tetes mata yang dijual bebas atau diresepkan oleh dokter.


“Kami menyarankan pekerja kantor yang mengalami kelelahan mata dan gejala mata kering, berkedip lebih sering selama menatap layar, dan mereka sebaiknya menggunakan air mata artifisial,” kata Hori.


Namun jika gejala itu tidak juga hilang, Hori menyarankan mereka berkonsultasi dengan dokter mata.*



Source: http://ift.tt/1i4I7we


Category: frontpage


no image

Jelang Penutupan Dolly, Terjadi Perusakan Wisma dan Banyak Pria Bertato



Sementara di pagi hari sampai menjelang sore, ketika kegiatan prostitusi menurun, pria-pria bertato tampak berjaga-jaga di sepanjang Dolly.




Hidayatullah.com—Sehari menjelang penutupan lokalisasi pelacuran di Dolly, suasana mulai panas. Selasa (17/06/2014) pagi, terjadi perusakan wisma pelacuran yang terletak di pertigaan Jalan Jarak dan Gang Dolly.


Dua wisma yang di rusak adalah Wisma “Putri Ayu II” dan wisma “Sumber Rejeki”. Kaca depan kedua wisma maksiat tersebut pecah oleh lemparan batu.


Sementara itu, beberapa orang berwajah sangar yang biasa duduk-duduk di wisma masing-masing tampak berkumpul di lokasi kejadian.


Arus kendaraan di Jalan Jarak menjadi tersendat dengan banyaknya orang yang berkumpul di lokasi.


Dari keterangan pihak kepolisian yang hadir di lokasi, pelaku pengrusakan sudah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut.


“Kita akan teliti lebih lanjut apakah pengrusakan ini motif pribadi atau ada motif lain di dalamnya,” ujar Kompol Manang Soebekti, Kapolsek Sawahan yang saat itu berada di lokasi.



Wisma “Putri Ayu II” dan wisma “Sumber Rejeki”. Kaca depan kedua wisma maksiat tersebut pecah oleh lemparan batu



Dari pemantauan tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU), kegiatan prostitusi di Dolly masih cukup aktif di malam hari.


Sementara di pagi hari sampai menjelang sore, ketika kegiatan prostitusi menurun, pria-pria bertato tampak berjaga-jaga di sepanjang Dolly.


Selain itu dibeberapa sudut jalan Jarak dan Dolly tampak kamera CCTV memantau.*/ [eza/JITU]




Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan aplikasi hidcom untuk Android . Install Sekarang !



Source: http://ift.tt/1vyljHN


Category: frontpage


no image

Kemendagri Mesir Larang Stiker Relijius di Mobil


Hidayatullah.com—Petugas keamanan Mesir akan menyingkirkan stiker-stiker berisi pesan relijius yang marak dipasang di kendaraan-kendaraan warga, kata deputi menteri dalam negeri untuk urusan media Abdul Fattah Usman dalam wawancara televisi hari Ahad (15/6/2014).


Dilansir Ahram Online, termasuk yang akan dilarang adalah tulisan “Apakah Anda sudah bershalawat kepad Nabi (Muhammad) hari ini?”


Berbicara dalam program Al-Qahira Al-Yaum, Usman mengatakan bahwa ini bukan pertama kalinya Kementerian Dalam Negeri melancarkan kampanye melarang penempelan stiker pesan relijius, yang menurutnya dapat memicu ketegangan sektarian.


Usman menambahkan, yang boleh ditempel di kendaraan hanyalah plat nomor kendaraan, bukan banner atau semacamnya yang bertema keagamaan atau lainnya.*



Source: http://ift.tt/1vylliY


Category: frontpage


no image

Tokoh NU dan Warga akan Gelar Doa Bersama Kelancaran Penutupan Dolly



Doa bersama menghadirkan Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Hasan Mutawakkil Alallah, Ustad Junaidi, Ketua Suriyah NU Putat Jaya dan seluruh warga di sekitar lokalisasi Dolly




hidayatullah.com/A Fazeri




Hidayatullah.com–Tokoh Nahdhatul Ulama (NU) dan warga sekitar lokalisasi Dolly mengadakan doa bersama demi kelancaran proses penutupan Dolly yang akan dideklarasikan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini Rabu 18 Juni 2014 besok.


“InsyaAllah nanti malam akan diadakan doa bersama di Masjid Baitu Ilmin Jalan Giliraya No.68, wilayah RW 9 Kelurahan Putat Jaya,” demikian terang Drs. Achmad Rijal, pengurus Masjid Baitul Ilmin kepada hidayatullah.com, Selasa (17/06/2014) siang.


Menurut Achmad Rijal, doa bersama dengan warga sekitar Dolly ini sudah dilakukan ketiga kalinya. Sebelumnya bertempat di Masjid at-Taubah dan Baiturahman, Kelurahan Putat Jaya, imbuh pria yang juga ketua ta’mir masjid Baitu Ilmin.


Ia juga mengungkapkan, acara doa nanti malam akan menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH. Hasan Mutawakkil Alallah dan Ustad Junaidi selaku Ketua Suriyah Nahdatul Ulama Putat Jaya, beserta seluruh warga yang tinggal di sekitar lokalisasi Dolly.


“Kami berharap besok (proses deklarasi penutupan Dolly,red) bisa berjalan dengan lancar serta tidak terjadi gesekan dari warga yang memiliki kepentingan,” ujar Achmad sebelum mengakhiri perbincangannya dengan hidayatullah.com .*/Achmad Fazeri (Surabaya)




Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan aplikasi hidcom untuk Android . Install Sekarang !



Source: http://ift.tt/1vy1LmL


Category: frontpage


no image

Semua Mendukung Dolly Ditutup, Kecuali PDIP




Selasa, 17/06/2014 17:19:55 | Dibaca : 10


Para pendukung lokalisasi Dolly


Surabaya (SI Online) – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Muhammad Machmud mendukung penuh langkah Wali Kota Tri Rismaharani untuk menutup lokalisasi pelacuran Dolly dan Jarak. Ia menegaskan suara bulat lembaga pimpinannya siap menjadi amunisi pembelaan jika Risma mendapat perlawanan.


“Harus ditutup. Targetnya memang harus ditutup. Itu sesuai dengan rencana semua badan pemerintahan,” kata Machmud seperti dikutip RoL, Selasa (17/6/2014).


Namun, kata dia, masih ada satu fraksi di legislatif kota yang menolak, tapi tekad pemerintah untuk mengalihfungsikan kawasan merah itu menjadi keharusan. Hingga saat ini, ia menjelaskan cuma fraksi PDI Perjuangan yang menentang langkah Risma tersebut.


“Ya, perdebatan itu biasa. Kendala-kendala wacana itu juga biasa. Tapi kan nggak lantas penolakan (dari PDI Perjuangan) itu dituruti,” ujar Machmud.


Ia menjelaskan, tanggal penetapan penutupan dan pengalihfungsian Dolly dan Jarak sudah ditentukan Pemkot. Kata dia, jika tetap pada peta rencana, Rabu (18/6/2014), jadi hari deklarasi bersama penutupan. Dia menjelaskan, deklarasi itu sebagai formalitas dari penghentian lokalisasi tersebut.


Menurut Machmud, setidaknya ada tiga elemen terkait prostitusi yang akan menandatangani penghentian praktik prostitusi itu. Diantaranya, adalah para mucikarasi, PSK, dan warga asli di Dolly dan Jarak. Selanjutnya, deklarasi juga harus disusul dengan program-program menghapusan serta pemulangan para PSK ke kampung halaman.


red: adhila





Source: http://ift.tt/1i5c2UN


Category: frontpage


no image

Dolly Ditutup, Kenapa Takut?


Rencana penutupan Gang Dolly, lokalisasi PSK terbesar di Asia Tenggara, oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini, mencuatkan kontroversi. Sebagian menentang dengan alasan ekonomi, bagaimanapun juga keberadaan lokalisasi itu telah memberi lapangan pekerjaan bagi banyak orang, setidaknya sekitar 1.200 PSK yang ada di sana.


Meski sempat ditentang, termasuk oleh wakilnya sendiri, namun Bu Risma tetap pada keputusannya. Jika kita kilas balik, keputusan itu bukanlah semata dorongan emosional, namun telah melalui pergulatan pemikiran dan penelitian yang secara langsung Beliau lakukan. Dan yang paling menguatkan adalah besarnya dampak negatif bagi perkembangan moralitas dan psikologis generasi muda.


Keputusannya itu juga didukung oleh banyak pihak, baik dari kalangan masyarakat maupun dari birokrat. Antara lain disuarakan oleh Muhammad Ismail (Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Surabaya), yang menyatakan penutupan ini dapat memperbaiki moral generasi muda di Surabaya serta memberikan pelajaran kepada mereka bahwa seks bebas haram menurut tuntunan agama (http://ift.tt/1nM4vtv ).


Angkernya Dolly dan Sekulerisme


Pemkot Surabaya dari tahun ke tahun telah berulangkali berencana menutup lokalisasi Gang Dolly, namun tak pernah berhasil. Perputaran rupiah yang mencapai miliaran rupiah ternyata telah mengalahkan kuasa pemerintah setempat.


Kuatnya penolakan penutupan lokalisasi terbesar ini disebabkan adanya ketergantungan ekonomi yang sangat tinggi di sana. Mereka berpendapat penutupan itu akan memutus roda perekonomian mereka yang selama ini berjalan baik. Hal itu lebih mereka takutkan meski sudah mengetahui haramnya perzinahan dalam Islam, agama yang dianut oleh mayoritas mereka. Hal ini yang menjadikan Dolly berkesan ‘angker’.


Pemikiran semacam ini bersumber dari pemahaman sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Pemahaman ini berpendapat bahwa kemaksiatan, selama itu bisa menghantarkan pada kesejahteraan maka boleh dilakukan. Tak ada lagi standar halal-haram, berganti menjadi standar untung-rugi. Dan pemahaman ini telah berurat akar di tengah masyarakat kita.


Sejahterakah dengan Demokrasi?


Sekulerisme merupakan prinsip dasar sistem demokrasi. Tak heran jika demokrasi mengacuhkan aturan Islam, bahkan memberi kebebasan berperilaku pada individu. Termasuk membebaskan pelacuran untuk mendapatkan kesejahteraan ekonomi.


Namun benarkah demokrasi bisa menghantarkan pada kesejahteraan hakiki? Bukankah dari undang-undang produk demokrasi kekayaan alam Indonesia dikuasai asing? Demokrasi pula yang mencabut subsidi BBM, subsidi pupuk, menaikkan tarif dasar listrik dan melangkakan minyak tanah. Dengan demokrasi, rakyat bukan bertambah sejahtera namun malah sengsara.


Islam, Memuliakan dan Menyejahterakan


Zina, dengan alasan apapun tetap diharamkan oleh Islam. Meski dalam kondisi keterpurukan ekonomi sekalipun, ketaatan tanpa syarat terhadap aturan Allah adalah konsekuensi keimanan. Kesejahteraan haruslah dicapai dengan cara yang diridhoi Allah sebagai Pencipta manusia dan alam semesta.


Syari’at Islam sebagai aturan dari Allah yang Maha Memberi Rizki telah memberikan jaminan terhadap kemuliaan perempuan sekaligus kesejahteraan ekonomi keluarga. Terhadap perempuan, tak ada tuntutan penafkahan karena peran utamanya adalah ibu dan pengatur rumahtangga.


Politik ekonomi Islam negara Khilafah menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat berupa sandang, pangan, papan. Serta menjamin keamanan, pendidikan dan kesehatan tanpa diskriminasi. Begitupula negara memberi kesempatan bagi rakyat untuk memenuhi kebutuhan sekunder maupun tersier-nya. Karena itulah tolak ukur kesejahteraan yang sebenarnya, terpenuhinya kebutuhan pokok per-individu.


Ekonomi Islam juga mengatur kepemilikan, dimana kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak tidak boleh diswastanisasi. Semua harus dikelola negara dan digunakan untuk menyejahterakan rakyat.


Dengan demikian akan tercapailah kesejahteraan hakiki tanpa harus melanggar larangan Alah dan menggadaikan kehormatan kaum perempuan. Sehingga sudah seharusnya penutupan lokalisasi Gang Dolly diikuti juga oleh seluruh lokalisasi pelacuran di Indonesia. Dan ini harus diiringi dengan pembinaan intensif bagi seluruh eks penghuni serta masyarakat sekitarnya untuk membangun kesadaran agar terikat dengan aturan Allah di seluruh sendi kehidupannya.


Semua ini akan dapat tercapai dengan adanya negara Khilafah yang menerapkan Islam kaffah. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bersatu mewujudkannya. Wallahu a’lam. []


sumber: http://ift.tt/1nM4vtz


Source: http://ift.tt/1ozyit7


Category: Aktualita


no image

Penutupan Dolly Ditolak, Ada Apa dengan Negeri Ini?


Pro kontra penutupan gang Dolly yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mewarnai pemberitaan media akhir-akhir ini. Banyak yang mendukung rencana Walikota Surabaya untuk menutup lokalisasi prostitusi yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut, namun tak sedikit juga yang menolak dengan alasan kesejahteraan ekonomi.


Rencana penutupan lokalisasi yang semula 19 Juni menjadi 18 Juni ini salah satu alasannya karena untuk memutus penyebaran HIV di kawasan lokalisasi. Di kawasan lokalisasi yang sudah ditutup seperti di Moro Seneng, Sememi, Surabaya ternyata masih ditemukan pekerja seks komersial yang beroperasi dan mengidap HIV.


Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rahmanita mengatakan, pada 2014, hingga akhir Mei, tercatat ada 254 pengidap HIV di Surabaya. Total pengidap HIV di Surabaya sejak 1998 sebanyak 7.600 orang. Di Dolly selama 2012 hingga 2014 ada 215 pengidap HIV.


Inilah Demokrasi


Pihak-pihak yang menolak penutupan lokalisasi prostitusi beralasan bahwa lokalisasi itu menjadi roda perekonomian warga. Dolly menjadi tempat banyak orang bergantung secara ekonomi. Jika Dolly ditutup, maka akan banyak warga yang kehilangan pekerjaannya dan roda perekonomiannya akan macet. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh banyak pihak yang menolak penutupan lokalisasi. Mereka merasa sejahtera ketika Dolly tetap dibiarkan menjadi lokalisasi.


Apa yang menjadi pemikiran pihak yang menolak adalah pemikiran yang lahir dari paham sekulerisme yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Sekulerisme telah mewarnai kehidupan negeri yang mayoritas muslim ini. Sekulerisme pula lah yang menjadikan lokalisasi prostitusi Dolly seolah ‘halal’ karena menjadi tempat bergantung kehidupan warga Dolly. Sekulerisme juga yang menjadikan standar halal-haram tidak lagi diperhatikan, berganti dengan standar manfaat. Na’udzubillah.


Sekulerisme juga lah yang melahirkan sebuah tatanan kehidupan yaitu sistem demokrasi. Sekulerisme menjadi aqidah lahirnya demokrasi. Maka tak heran, jika dalam demokrasi melahirkan berbagai macam kebebasan, yang salah satunya kebebasan berperilaku.


Dari kebebasan berperilaku inilah muncul berbagai macam perilaku yang menyimpang dari tuntunan agama. Salah satunya perilaku seks bebas (perzinahan), meski perzinahan dilakukan atas nama kesejahteraan ekonomi.


Namun coba telisik lebih dalam, apakah memang benar demokrasi melahirkan kesejahteraan hakiki? Apakah mereka yang hidup dari hasil prostitusi benar-benar sejahtera? Kalau memang sudah sejahtera, semestinya tak perlu takut lokalisasi ditutup. Hal ini mengindikasikan bahwa kesejahteraan yang mereka raih adalah kesejahteraan semu.


Demokrasi yang diterapkan negeri ini sebagai sebuah sistem kehidupan tidak menjamin kesejahteraan yang hakiki. Demokrasi hanya melahirkan kesejahteraan semu. Bahkan demokrasi hanya melahirkan kesengsaraan dan penderitaan yang tak berkesudahan. Data BPS menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin pada 2011, dengan garis kemiskinan Rp 233.740,- mencapai 30 juta orang (12 persen). Namun, jika garis tersebut ditambah dengan penduduk yang rentan miskin yakni 1,6 kali garis kemiskinan (Rp 374.000,-) maka jumlahnya melonjak menajdi 102 juta (43 persen).


Demokrasi telah membiarkan kekayaan alam negeri ini dirampok oleh asing. Sehingga rakyat harus menderita karena tidak memiliki harta untuk hidup. Emas dirampok oleh Freeport, minyak dan gas bumi pun demikian, dirampok oleh perusahaan-perusahaan multinasional seperti Exxon, Shell, dll. Pada akhirnya rakyat harus membeli emas dengan harga mahal, migas pun demikiran, padahal emas dan migas milik rakyat, kenapa harus membeli dengan harga yang mahal? Inilah sebuah ironi di negeri yang sangat kaya raya.


Penolakan penutupan Dolly juga menjadi sebuah ironi di negeri yang mayoritas rakyatnya adalah muslim. Padahal, atas nama apapun, perzinahan adalah sebuah kemaksyiatan, sebuah keharaman yang harus segera diberantas.


Islam Solusi Tuntas


Tidak bisa dinafikan bahwa fitrahnya manusia menginginkan kehidupan yang sejahtera. Namun kesejahteraan yang ingin diraih tentu saja juga tidak boleh menyimpang dari rel Pencipta. Artinya bahwa manusia diciptakan dengan seperangkat fitrahnya juga sekaligus dibekali aturan untuk mengelola fitrah manusia tersebut. Sehingga fitrah manusia seluruhnya bisa berjalan secara harmonis bersama manusia dan makhluk lainnya.


Islam sebagai sebuah agama yang sesuai dengan fitrah manusia memahami bahwa manusia memiliki potensi ingin hidup secara berkecukupan, dan Islam memberi solusi bagaimana manusia bisa memenuhi fitrahnya tersebut tanpa harus menyimpang dari garis aturan Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan.


Islam pun sebagai sebuah sistem kehidupan memberikan jawaban bahwa Sistem ekonomi Islam, memberi jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok per individu rakyat, sehingga menghilangkan beban yang memicu munculnya kemaksyiatan seperti halnya yang dilakukan oleh para PSK dan mucikari atau memicu munculnya kekerasan termasuk kepada keluarga.


Politik ekonomi Negara Islam menjamin setiap warga negara mendapatkan kebutuhan dasar mereka yaitu pangan, sandang dan perumahan serta jaminan kesehatan, pendidikan dan keamanan. Negara juga memberikan kesempatan kepada setiap warga negaranya untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya. Karena itulah indikator kesejahteraan ekonomi sebuah negara dalam pandangan Islam adalah terpenuhinya kebutuhan pokok individu.


Untuk mewujudkn semua itu, negara berperan sangat dominan dan tidak menyerahkannya kepada mekanisme pasar sebagaimana yang terjadi dalam sistem demokrasi-kapitalisme.


Sistem Politik dalam Islam yaitu Negara Khilafah menjamin perlindungan dan keamanan setiap warganya sebagai prioritas kebijakan dan tidak berkompromi pada tujuan materi, sehingga apapun alasan dilakukannya kemaksyiatan termasuk adanya lokalisasi Dolly atas nama kesejahteraan ekonomi rakyat setempat, tetap tidak akan dibiarkan. Tidak ada kompromi dalam kemaksiatan. Maka, hal-hal yang bisa mengarahkan kepada kemaksiatan akan diberantas, tidak akan dibiarkan tayangan-tayangan yang mengandung unsur pornografi maupun pornoaksi. Tidak akan difasilitasi hal-hal yang akan menyuburkan perilaku maksiat seperti lokalisasi prostitusi.


Negara Khilafah juga akan menerapkan sanksi dengan tegas. Sanksi ini akan menjadi pencegah dan penebus dosa di akhirat kelak (jawabir dan jawazir) sehingga mampu menghapus segala hal yang menyuburkan pornografi-pornoaksi, kriminal dan kekerasan. Para pelaku zina akan dihukum rajam bagi yang pernah menikah dan dicambuk serta diasingkan bagi yang belum pernah menikah.


Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia memiliki kekuatan, baik dari segi SDA maupun SDM. Seringkali dikatakan bahwa jumlah penduduk yang sangat besar menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah. Namun lain halnya dengan Negara Khilafah. Bagi Khilafah Islamiyah jumlah penduduk yang banyak, tidak dianggap beban namun sebagai potensi yang akan dibina untuk berkualitas secara fisik, psikis dan intelektualitas untuk menjadi manusia yang bermartabat, bukan sebagai aset ekonomi negara/beban pembangunan yang dalam demokrasi harus diturunkan jumlahnya.


Sikap Semestinya


Melihat fenomena maraknya kekerasan, kriminalitas, kemaksiatan yang kian hari bak jamur di musim penghujan, tentunya kita semua menginginkan segala macam keburukan sirna dan berganti dengan kebaikan. Namun segala kebaikan yang selama ini diharapkan belum juga terwujud disebabkan karena kita dijauhkan dari tatanan kehidupan terbaik yang datangnya dari pencipta, Allah SWT, yaitu Syariat Islam. Saat ini hukum-hukum Islam dieliminasi dari kehidupan berbangsa dan bernegara, digantikan dengan hukum buatan manusia yang nisbi.


Kebaikan akan lahir jika dan hanya jika kita mengembalikan tatanan kehidupan terbaik yang datangnya dari Penicpta kita dalam kehidupan. Syariat harus diterapkan sebagai sebuah sistem hidup yang mengatur urusan pemerintahan negeri ini.


Sesungguhnya pergantian pemimpin yang berulang kali telah dilakukan di negeri ini tidak menjadikan negeri ini lebih baik. Indonesia akan lebih baik jika diterapkan Syariat Islam di dalamnya. Karena sebaik apapun personal pemimpin kelak, jika sistem yang diterapkan masih sistem kufur demorkasi, maka ia akan terjebak dan terjerembab dalam lumpur demokrasi yang menuhankan manusia. Demokrasi menjadikan manusia setara bahkan lebih tinggi dari Pencipta manusia itu sendiri. Demokrasi menjadikan aturan buatan manusia lebih layak diterapkan ketimbang aturan Tuhan.


Maka, semua pihak harus cerdas dalam menentukan pilihan. Karena setiap pilihan hidup akan dipertanggung-jawabkan kelak di hadapan Allah SWT. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang secara nyata-nyata tidak akan menentang titah Tuhannya. Ia tidak akan berani menentang Firman-Nya. Ia pun tidak akan sembunyi-sembunyi untuk berjuang dalam perjuangan penegakkan Syariat-Nya. Ia akan secara terang-terangan memproklamirkan akan menerapkan Aturan Allah dalam setiap aspeknya. Adakah calon pemimpin yang seperti itu? Wa Allahu ‘alam Bishshawab. (Oleh : Lilis Holisah (Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia) []


sumber: http://ift.tt/SPwwVy


Source: http://ift.tt/1qZucrk


Category: Aktualita


no image

Keluarga Indonesia Hadapi Ancaman Serius


Surabaya, beritasurabaya.net – Keluarga Indonesia sedang menghadapi ancaman serius. Sejahtera jauh dari jangkauan dan kemiskinan merajalela. Demikian pernyataan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia dalam Dialog Tokoh Nasional Peduli Keluarga yang dipusatkan di Surabaya, Sabtu (14/6/2014).


Menurut juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Iffah Ainur Rochmah, saat ini semakin banyak keluarga Indonesia kehilangan fungsi menanamkan nilai-nilai dasar bagi generasi. Terlebih setelah kaum ibu banyak terseret ke dunia kerja hingga kehilangan fungsi utamanya sebagai pendidik putra-putrinya.


Hal tersebut bagian dari dampak kemiskinan di Indonesia. Berdasarkan data BPS 2014, terdapat 28,5 juta penduduk miskin ada di negeri ini.


Keluarga Indonesia, kata Iffah, sepatutnya menyadari persoalan yang dihadapinya. Berbagai langkah pemerintah dengan pradigma ekonomi kapitalisme dan demokrasi liberal, terbukti gagal mengatasi dampak kemiskinan bahkan melahirkan persoalan-persoalan baru.


Kebijakan menggiatkan program Keluarga Berencana (KB) adalah solusi sarah arah (miss leading) yang mengalihkan kita dari penyelesaian akar masalah. Dengan adanya KB mengasumsikan bahwa pemerintah sulit menyediakan lapangan kerja, sulit memberikan pendidikan dan layanan kesehatan gratis dan sebagainya, dengan jumlah penduduk yang besar.


”Dan seolah menegaskan bahwa dengan jumlah penduduk yang turun angkanya dan jumlah anak sedikit, seolah ada jaminan negeri ini bahwa penduduk akan sejahtera. Tapi faktanya, tetap saja para istri banyak bekerja di luar untuk ikut menanggung beban hidup keluarga dengan konsekuensi keluarga kehilangan fungsi menanamkan nilai-nilai dasar bagi generasi. Akibatnya, makin merajalela pecandu pornografi dan seks bebas, penikmat dan pelaku video mesum hingga korban paedofilia. Ini fakta yang memilukan,”papar Iffah.


Iffah juga mengkritik kebijakan mengatasi kejahatan seksual dengan Pendidikan Kesehatan Reproduksi (Kespro) masuk kurikulum SD tanpa menghapus pornografi, menutup lokalisasi prostitusi, mengganti kurikulum liberal dan mewujudkan kontrol masyarakat. Imbasnya, hanya akan berujung semakin menguatnya gaya hidup liberal.


Kerusakan keluarga Indonesia, dinilai Iffah, buat pahit penerapan sistem demokrasi seluler dan ekonomi liberal. Harapan akan hadirnya solusi atas berbagai persoalan keluarga tidaklah cukup digantungkan pada janji-janji para pemimpin baru.


”Kampanye menghadirkan konsep baru perlindungan anak, Kota Layak Anak serta Pemberdayaan Ekonomi dan Politik bagi Perempuan, tidak akan menyelesaikan masalah. Solusi tuntasnya adalah kita harus mencampakkan sistem sekuler demorkasi dan ekonomi liberal dan itu baru bisa menyelamatkan masa depan keluarga Indonesia,”ungkapnya.


Iffah menjelaskan dalam beberapa tahun terakhir ini Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia membuat kajian politik pemberdayaan perempuan dan pembangunan ketahanan keluarga sesuai dengan Syariah Islam. Namun pemerintah belum memberikan respon positif meski kebijakan pemerintah mengatasi kemiskinan dan ketahanan keluarga salah arah.


”Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) tidak pernah menyentuh akar permasalahan. Yang ditampilkan hanya sisi positif dan itu pun banyak ditumpangi kepentingan-kepentingan ekonomi,”tukasnya.


Selain membuat kajian politi, Dialog Tokoh Nasional Peduli Keluarga yang diikuti lebih dari seribu kaum perempuan, yang digelar Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia ini bisa menjadi salah satu medium untuk menegaskan gagasan penuntasan masalah keluarga dan tokoh perempuan sebagai kalangan dari pusat dan berbagai daerah di Indonesia.


Melalui Dialoh Tokoh Nasional Peduli Keluarga, tambah Iffah, Muslimah Hizbut Tahri Indonesia akan tetap konsisten meneruskan solusi berdasarkan Khilafah Islamiyah sebagai sistem perlindungan menyeluruh bagi keluarga Indonesia kepada pemerintah.


”Khilafah Islamiyah akan mandiri menentukan corak kurikulum pendidikan, dan memberikan bekal memadai pada orang tua dalam mendidik generasi. Khilafah juga menerapkan sistem informasi dan komunikasi publik yang penuh dengan nuansa edukatif dan menjaga ketakwaan seluruh keluarga,” pungkas Iffah. (noer soetantini)


sumber: http://ift.tt/1q6ZXie


Source: http://ift.tt/1luy2cL


Category: Aktualita


16.6.14
no image

Kerusakan Keluarga Buah Pahit Demokrasi


HTI Press. Surabaya. Dalam rangka hari keluarga nasional Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia mengadakan agenda akbar, Dialog Tokoh Nasional yang bertempat di Gedung Graha Tirta, PDAM Surabaya (14/06/2014). Acara ini mengambil tema “Menggagas Solusi Kerusakan Keluarga Buah Pahit Demokrasi”. Acara ini dihadiri oleh sekitar 300 tokoh nasional dari beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jember, Madiun, Jakarta, Malang, Surabaya, dan beberapa wilayah lainnya.


Hadir pula dalam acara Dialog Tokoh Nasional ini Ustadzah Dedeh Wahidah yang merupakan Koordinator Lajnah Tsaqoifyah MHTI sebagai pembicara pertama. Dan Ustadzah Ratu Erma Rahmayanti, Mas’ullah ‘Ammah MHTI sebagai pembicara kedua.


pada pemaparan materi yang diberikan, Ustadzah Dedeh Wahidah menjelaskan bahwa kerusakan keluarga yang ada sekarang merupakan buah pahit dari penerapan sistem demokrasi. Karena demokrasi menempatkan manusia untuk membuat aturan, maka muncullah aturan-aturan yang disesuaikan dengan kepentingan pihak-pihak tertentu. Dimana efeknya berimbas kepada keluarga. Contohnya saja, dalam sistem sekarang kemaksiyatan yang nyata terlihat mata seperti tempat pelacuran masih menjamur, mudahnya akses pronografi oleh seluruh kalangan. Efek dari penerapan demokrasi yang tidak mampu mensejahterakan pun memaksa para perempuan untuk bekerja membantu menafkahi keluarga.


Negara pun menyerukan solusi yang tidak masuk akal. Program KB ditawarkan untuk mengurangi ketidaksejahteraan dan masalah keluarga. Dengan asumsi bahwa semakin sedikit jumlah keluarga akan semakin kecil pengeluaran keluarga dan semakin mudah dalam mengelola masalah yang muncul.


Beliau menyampaikan bahwa akar masalah keluarga bukanlah tidak ikutnya perempuan bekerja dan terlalu banyaknya jumlah anggota keluarga. Tapi ini disebabkan karena demokrasi menyebabkan Negara berlepas tangan dari menjamin kesejahteraan keluarga dengan mengabaikan pemenuhan kebutuhan pokok bagi tiap individu.


Ustadzah Ratu Erma Rahmayanti menjelaskan bahwa kondisi yang ada sekarang, sangat bertentangan dalam Islam. Islam tidak menganggap jumlah penduduk yang besar sebagai ancaman, malah sebaliknya bisa merupakan potensi besar untuk meraih kemulian sebagai umat terbaik (khoiru ummah). Slogan-slogan pemerintah yang mendukung program Keluarga Berencana juga bertentangan dengan fakta kehidupan. Allah SWT lah yang mengatur kelahiran, kematian, dan rizki hamban-hambaNya.


Islam juga menetapkan kebutuhan pokok berupa pelayanan yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dalam bidang sosial, Khilafah akan memastikan bahwa peran dan fungsi keluarga berjalan sebagaimana ketentuan. Setidaknya mekanisme yang dilakukan Khilafah adalah: pertama adalah memerintahkan setiap kepala keluarga untuk bekerja(QS 62: 10). kedua, mewajibkan negara untuk menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Ketiga, mewajibkan ahli waris dan kerabat yang mampu untuk memberi nafkah yang tidak mampu (QS 2: 233).


Keempat, jika ada orang yang tidak mampu, sementara kerabat dan ahli warisnya tidak ada atau tidak mampu menanggung nafkahnya, maka nafkahnya menjadi kewajiban negara (Baitul Mal). Dalam hal ini, negara bisa menggunakan harta milik negara, harta milik umum, juga harta zakat. Apabila di baitul mal tidak terdapat harta sama sekali maka kewajiban tersebut berlaku atas seluruh kaum muslimin.


Fakta keberhasilan Khilafah dalam mensejahterakan keluarga dan menyelesaikan permasalahan yang ada telah terbukti selama 13 abad.


Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menawarkan jalan keluar bagi terwujudnya keluarga Indonesia bahagia sejahtera adalah dengan penerapan sistem politik Khilafah Islamiyah dan sistem ekonomi Islam menggantikan demokrasi dan sistem ekonomi liberal.


Khilafah Islamiyah akan mewujudkan sistem perlindungan menyeluruh bagi keluarga. Sistem ekonomi Islam akan menyejahterakan, menghapus kemiskinan, menjamin terjadinya distribusi pendapatan, menciptakan lapangan kerja yang luas bagi kaum laki-laki dan tidak menyerahkan pengelolaan SDA kepada asing sehingga hasilnya mampu memberikan layanan publik yang berkualitas.


Khilafah tidak akan pernah melaksanakan program dzalim seperti pemberdayaan ekonomi, Kontrasepsi mantap tubektomi-vasektomi, larangan nikah dini, dan sejenisnya.


Khilafah juga akan mandiri menentukan corak kurikulum pendidikan, dan memberikan bekal memadai pada orang tua untuk mendidik generasi. Khilafah akan menghapus tuntas pornografi-aksi, prostitusi, produksi Miras, peredaran narkoba serta menjadi pelindung dari serangan pemikiran dan budaya asing yang merusak. Khilafah akan menerapkan sistem informasi dan komunikasi publik yang penuh dengan nuansa edukatif dan menjaga ketakwaan seluruh keluarga, warga Daulah Khilafah. Dengan sistem inilah setiap keluarga Indonesia akan meraih kebahagiaan dan kesejahteraan.


Maka Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia mengajak kaum muslim untuk memperjuangkan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah demi memenuhi seruan Allah dan dengannya akan terwujud kemuliaan, kesejahteraan dan kemajuan yang dicita-citakan. []



Registrasi peserta




Peserta mengikuti jalannya acara



Teatrikal

Teatrikal



Wawancara oleh media eksternal dan internal kepada Juru Bicara MHTI, Ustadzah Iffah Ainur Rochmah

Wawancara dengan Juru Bicara MHTI, Ustadzah Iffah Ainur Rochmah (kanan)



Source: http://ift.tt/1qZjuRx


Category: Reportase


Main Post

Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 ManusiaOnline All Right Reserved