Manuver Berlebihan Tim Jokowi



Senin, 28/04/2014 21:55:37 | Dibaca : 119


Ilustrasi: Massa menolak pencapresa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo


Tim Sukses Jokowi melakukan manuver di berbagai bidang. Mulai bidang diplomasi, media, lembaga survei dan lembaga pendidikan. Banyak langkah ngawur yang dilakukan.


Pada 14 April lalu di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Jokowi bertemu dengan beberapa duta besar luar negeri di Indonesia. Diantaranya yang penting adalah Dubes Vatikan dan Dubes Amerika Robert Blake. Megawati ikut mengawal ‘anak buah semata wayangnya’ itu. Selain itu untuk memoles citra Jokowi, mereka juga menghadirkan mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad ke kantor PDIP.


Kedatangan Tim Jokowi dalam pertemuan dengan dubes-dubes itu dikecam keras oleh pakar politik UGM, Prof Amien Rais. Amien menyatakan bahwa kedudukan presiden atau calon presiden jauh lebih tinggi dari dubes. “Secara diplomatis (Jokowi menemui Dubes AS) itu blunder luar biasa,” kata Amien di Jakarta, Kamis, 17 April 2014.


Amien menyatakan posisi dubes jauh di bawah jabatan presiden. Sikap yang benar, kata dia, jika seorang dubes bertandang ke kediaman mantan presiden atau calon presiden. “Seharusnya Duta Besar Amerikalah yang datang ke Jokowi, Aburizal Bakrie, atau Prabowo Subianto sebagai calon presiden.” Tokoh Gerindra Fadli Zon juga bereaksi keras terhadap pertemuan Jokowi-Dubes asing itu. “Sebagai bangsa merdeka dan berdaulat kita tak perlu ngemis dukungan negara asing. Yang penting dukungan rakyat,”tegas Fadli.


Sedangkan Jokowi berterus terang bahwa pergaulan internasionalnya belum luas. Ia menyatakan,” “Buat saya ini pergaulan yang memperluas wawasan,” kata Jokowi di rumah dinasnya di kawasan Taman Suropati, Senin malam, 14 April 2014. Menurut Jokowi, makan malam bersama para duta besar itu dihadiri diplomat Turki, Peru, Amerika Serikat, Meksiko, Norwegia, dan Inggris. Pertemuan selama dua jam setengah tersebut berlangsung di kediaman Jacob Soetojo di Permata Hijau, Jakarta Selatan.


Pertemuan yang digagas Jokowi dengan para dubes itu ternyata difasilitasi oleh aktivis CSIS, Jacob Soetojo. Siapa Jacob Soetojo? M Sembodo dalam websitenya tikusmerah.com membedah sepak terjang Jacob. Menurut Sembodo, Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta besar tersebut, tentu kapasitasnya sebagai bagian dari CSIS [Centre for Strategic and International Studies]. Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir Orde Baru yang memberikan masukan strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang belum banyak diketahui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis Katolik bernama Kasebul [kaderisasi sebulan] yang didirikan oleh Pater Beek, SJ. (Tentang apa dan bagaimana Kasebul itu, silakan baca tulisan Sembodo di: http://ift.tt/1kdJqov]


Pada awalnya, Kasebul didirikan untuk memerangi komunisme. Setelah komunisme [PKI] dihancurkan oleh Soeharto, tujuan Kasebul beralih melawan dominasi Islam. Pater Beek, seorang rohaniawan Jesuit kelahiran Belanda, melihat bahwa setelah komunis tumpas ada lesser evil [setan kecil], yaitu: Islam. Untuk menghancurkan setan kecil tersebut, Pater Beek menganjurkan kaum fundamentalis Katolik dalam Kasebul bekerjasama sama dengan Angkatan Darat.


Selain itu, guna menghadapi ancaman Islam perlu dibentuk lembaga pemikir yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka kemudian dibentuklah CSIS. Pater Beek mempunyai pemikiran sebagaimana diungkapkan Ricard Tanter:


“Visi [Pater] Beek pibadi atas peran Gereja, Gereja harus berperan dalam mengatur negara kemudian mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan melalui negara.”

Atas visi tersebut maka tugas dibebankan pada CSIS. Lembaga ini menurut Daniel Dhakidae merupakan penggabungan antara politisi dan cendekiawan Katolik dengan Angkatan Darat. Lembaga inilah yang kemudian memasok dan menjaga agar Orde Baru menerapkan negara organik versi gereja pra konsili Vatikan II.


Manuver Lembaga Survei


Manuver Tim Jokowi yang menggelikan adalah lewat lembaga-lembaga survei. Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) misalnya mengeluarkan hasil exit poll-nya (lihat Koran Tempo, 15 April 2014). Wawancara yang dilakukan SMRC kepada responden setelah pencoblosan itu menghasilkan suara sebagai berikut:


a. PKB : 37% dukung Jokowi, 26,3% dukung Prabowo

b. PKS : 42% dukung Jokowi, 26,4% dukung Prabowo

c. PAN : 40% dukung Jokowi, 24,8% dukung Prabowo

d. PPP : 41% dukung Jokowi, 32,2% dukung Prabowo

e. PBB : 47% dukung Jokowi, 26,3% dukung Prabowo


Kengawuran lembaga survei juga dilakukan oleh lembaga Charta Politika, pimpinan Sarjana lulusan Universitas Katolik Parahyangan, Yunarto Wijaya. Lihatlah utak-atik angka yang ia berikan untuk mendongkrak popularitas Jokowi:


a. Nahdhatul Ulama : 39,8% mendukung Jokowi, 17,5% mendukung Prabowo

b. Muhammadiyah : 30,4% mendukung Jokowi, 13% mendukung Prabowo

c. Persis : 25% mendukung Jokowi, 50% mendukung Prabowo

d. LDII : 25% mendukung Jokowi, 0% mendukung Prabowo

e. Al Khairat : 66,7% mendukung Jokowi, 0% mendukung Prabowo

f. DDII : 25% mendukung Jokowi, 0% mendukung Prabowo

g. Nahdlatul Waton: 42,9% mendukung Jokowi, 0% mendukung Prabowo


Survei Charta Politica mengaku surveinya ini dilakukan pada awal Maret lalu melibatkan 1200 responden, dengan tingkat kepercayaan 95% dan batas kesalahan 2,83%. Tokoh DDII, Dr. Mohammad Noer, mempertanyakan metodologi atau pengambilan sampel survei itu.


Yang mengerikan adalah manuver yang dilakukan Tim ke Soal Ujian Nasional. Nama Jokowi dimunculkan dalam soal ujian Bahasa Indonesia Jurusan IPS untuk tingkat SMA/MA nomor 13 dan 14. Soal yang disampaikan memuat biografi Jokowi. Berikut kutipannya: “Ir H Joko Widodo lahir di Surakarta 21 Juni 1961, merupakan alumnus UGM. Sejak 15 Oktober, Jokowi menjabat gubernur DKI. Tokoh yang jujur dan selalu bekerja keras ini dikenal dengan gaya blusukannya ke pelosok ibukota. Berbagai penghargaan telah beliau raih, antara lain ia termasuk salah satu tokoh terbaik dalam pengabdiannya kepada rakyat.


Sebagai tokoh seni dan budaya, beliau dinilai paling bersih dari korupsi. Namun demikian usahanya di bidang upah minimum provinsi (UMP) mengalami kendala oleh tindakan buruh yang mengambil kembali perwakilannya saat sidang berlangsung. Buah dari pertemuan tersebut, dewan pengupahan menetapkan upah Rp 2,2 juta.


Pertanyaan soal untuk nomor 13 adalah sebagai berikut: Keteladanan Jokowi pada wacana di atas adalah …(a) alumni UGM yang cinta seni dan budaya ( b) gemar blusukan ke pelosok wilayah (c) mengadakan pertemuan dengan dewan pengupahan (d) menjadi tokoh seniman terkemuka di DKI Jakarta (e) menerima berbagai penghargaan dan gelar.


Ternyata kemudian diketahui bahwa upaya sosialisasi nama capres Jokowi ini tidak hanya dalam UN Bahasa Indonesia, tapi juga masuk dalam UN Bahasa Inggris.


Menanggapi hal ini Jokowi menyatakan bahwa dirinya merasa dijebak dan ada upaya membangun citra negatif di dirinya dalam kasus UN ini. Jokowi bisa saja berkelit, tapi Tim Relawan atau Tim Sukses Jokowi tentu tidak melaporkan gerak mereka semua ke Jokowi. Bisa saja karena saking terlalu semangatnya mereka melakukan langkah-langkah yang ngawur seperti itu. Apapun alasannya, yang jelas bahwa hal seperti itu dapat dengan mudah mempengaruhi pemilih pemula. Sebagaimana pendapat Redaksi TVOne pada siarannya, 15 April 2014.*



(Nuim Hidayat)




Source: http://ift.tt/1iwP8nH


0 Response to "Manuver Berlebihan Tim Jokowi"

Posting Komentar

Bagaimana menurut kamu??? hmmmmmmmm @_^;