Kisah co-founder Weipin: suka duka menjadi entrepreneur wanita

yingying-lu

Ketika Ying-Ying Lu, wanita keturunan China yang lahir di Amerika, menjadi seorang co-fouder di sebuah startup baru, ia tidak yakin tentang apa yang ia lakukan. Karena tertarik dengan petualangan dan kesempatan untuk membuat perbedaan, Ying-Ying terjun ke dunia entrepreneurship, mengabaikan peluang bekerja pada sebuah perusahaan di New York City.


Ying-Ying bergabung dengan dua co-founder lainnya untuk mendirikan Weipin, sebuah marketplace online bagi pemilik rumah di China untuk menemukan dan mempekerjakan pembantu rumah tangga. Ia sangat tertarik pada aspek sosial bisnis ini dan kesempatan untuk membantu wanita China yang kurang mampu mendapatkan pekerjaan yang baik. “Tidak ada yang menyelesaikan masalah yang dihadapi 99 persen masyarakat di dunia,” jelasnya.


Weipin telah membantu ratusan wanita bekerja di rumah-rumah dimana mereka melakukan berbagai pekerjaan seperti memasak, bersih-bersih, merawat anak-anak, dan melakukan tugas-tugas rumah tangga lainnya. Perusahaan ini bekerja sama dengan lembaga lokal yang bertindak sebagai perantara antara pembantu dan pemilik rumah yang akhirnya mempekerjakan mereka. Setiap wanita telah dibuatkan semacam halaman resume yang mencakup video perkenalan berdurasi satu menit. Ying-Ying mengatakan ada sekitar enam sampai delapan perekrutan terjadi setiap hari di Weipin.


Namun antusiasme Ying-Ying secara bertahap memudar karena realitas yang ia alami. Tiga co-founder Weipin – dua wanita dan satu pria – memiliki visi yang berbeda untuk perusahaan ini. Akhirnya, satu founder wanita lainnya meninggalkan perusahaan, hanya menyisakan Ying-Ying dan rekan prianya.


Konflik dengan co-founder


weipin


Salah satu contoh halaman profil di Weipin.


Pada awalnya, mereka menerima tawaran untuk melakukan sesi pelatihan secara offline di daerah miskin di luar Beijing dengan wanita yang baru saja lulus dari sekolah pelatihan. Mereka mengajarkan para pembantu rumah tangga bagaimana menangani konflik dengan keluarga majikan, hak-hak mereka sebagai pengasuh, dan bagaimana berinteraksi dengan anak-anak. Selanjutnya, Weipin menunjukkan kepada mereka bagaimana menggunakan aplikasi dan website mereka yang menciptakan sebuah komunitas bagi pengasuh untuk saling berhubungan. Dengan ini Weipin mendapatkan penghasilan tambahan, dan Ying-Ying merasa ia telah membuat dampak, meskipun kecil.


Di saat Ying-Ying ingin melanjutkan workshop offline ini, co-founder-nya bersikeras mengalihkan fokus bisnis mereka ke online. Dan karena rekan prianya telah mengucurkan tabungan pribadinya sendiri ke dalam perusahaan, keputusan tersebut tidak bisa dielakkan. Tapi itu bukan satu-satunya alasan Ying-Ying merasa bisnis tersebut sudah berada di luar jangkauannya.


“Tidak banyak wanita yang tahu teknologi,” kata Ying-Ying, “Founder wanita sering dikorelasikan sebagai founder non-teknis, dan ditempatkan pada posisi yang kurang menguntungkan.”


Ying-Ying segera menyadari bahwa meskipun usahanya berfokus pada pasar yang sebagian besar adalah wanita, startup teknologi masih menjadi wilayah yang dikuasai pria. “Orang-orang yang saya pikir bisa saya ajak bicara secara profesional di ranah ini adalah pria.”


Ia mengatakan bahkan dalam lingkungan profesional, para pria sering tidak sadar menganggap perempuan sebagai istri atau anak perempuan. Sebagai seorang wanita yang berada di usia pertengahan dua puluh, melakukan presentasi di depan VC dan angel investor yang berusia 30-an atau 40-an menjadikannya berperan seolah sebagai anak perempuan. Salah satu penasihatnya bahkan menyarankan Ying-Ying untuk berperan sebagai CEO perusahaan selama meeting dengan calon investor dan “menggunakan pesona kewanitaannya.” Penasihatnya menjamin cara tersebut bisa berhasil dan pendanaan bisa diperoleh dalam dua minggu, tapi Ying-Ying menolak saran itu.


Meskipun peran gender menempatkan wanita pada posisi yang kurang menguntungkan, Ying-Ying menjelaskan beberapa keuntungannya. “Lebih mudah untuk meminta bantuan dan hal ini secara sosial dianggap wajar,” katanya, menjelaskan bahwa menjadi wanita membuatnya lebih mudah mendapatkan mentor.


”Startup mengubah cara Anda memandang hidup”


Namun, setahun setelah ia terjun ke dunia startup, Ying-Ying memutuskan untuk meninggalkan perusahaannya. Ia baru saja kembali ke Amerika, mengungkapkan kesulitan yang ia alami terkait “keselarasan tim.”


“Saya pikir perusahaan tidak akan berhasil dalam bentuk yang sekarang, tetapi bisa berhasil dalam bentuk yang lebih offline.”


Visi Ying-Ying untuk Weipin adalah menjadikannya sebagai perusahaan sosial, tidak hanya untuk keuntungan bisnis. “Di China, akan sulit jika Anda menyebut diri sebagai bisnis sosial. Anda tidak bisa memperoleh pendanaan,” katanya. Ketika ditanya apakah wanita memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk fokus pada usaha sosial dan apakah investor perempuan akan menguntungkan startup tersebut, Ying-Ying tampak tidak yakin.


Meski kecewa, ia mengatakan bahwa membantu wanita menemukan pekerjaan – lebih cepat, di lokasi yang lebih baik, dan dengan keluarga yang cocok – layak untuk diperjuangkan meski dengan berbagai kesulitan. Ia mengatakan ingin tinggal di ekosistem teknologi dan startup, meskipun tidak harus sebagai CEO atau founder. Ia lebih suka memainkan peran sebagai pendukung, tetapi tidak akan menyesal telah melangkah ke posisi eksekutif.


“Saya pikir orang harus terjun ke dunia startup. Ini mengubah seluruh cara Anda berpikir tentang hidup,” katanya. “Saya menyadari bahwa segala sesuatu yang saya inginkan harus saya buat, dan saya memiliki kekuatan untuk melakukan itu.”


Baca seri wawancara entrepreneur wanita kami lainnya:


Source: http://ift.tt/PPLfij






via HeniPutra.Net http://ift.tt/1qcbhr6

0 Response to "Kisah co-founder Weipin: suka duka menjadi entrepreneur wanita"

Posting Komentar

Bagaimana menurut kamu??? hmmmmmmmm @_^;