Salam Perjuangan!
Alhamdulillah kami bisa hadir lagi di ruang baca Anda melalui edisi ini. Bagaimana kabar Anda? Semoga tetap semangat dalam menyuarakan kebenaran Islam. Dan kami berdoa agar Allah SWT senantiasa memberikan keistiqamahan kepada kita semua dalam meniti jalan kebenaran ini. Amin
Pembaca yang dirahmati Allah, hingar bingar pemilu sudah selesai. Apa yang Anda rasakan? Gembira, atau justru sedih. Bagi simpatisan partai pemenang, tentu bersuka cita. Sebaliknya, simpatisan dan pendukung partai yang kalah, harus pasrah.
Lepas dari itu semua, untuk sementara demokrasi menjadi pemenang. Meski jumlah golongan putih di atas 30 persen—lebih besar dari jawara pemilu legislatif—tapi demokrasi dinilai berhasil dilaksanakan. Partisipasi rakyat masih di atas 60 persen.
Tapi apakah suara rakyat yang telah disalurkan ada jaminan untuk diaspirasikan menentukan arah negeri ini? Nanti dulu. Belum juga hasil pemilu diumumkan, partai-partai peserta pemilu sudah berancang-ancang berkoalisi. Perbedaan yang sebelumnya ditonjolkan saat kampanye, kini seolah hilang.
Sebelum pemilu, banyak selentingan informasi, kaum Muslim harus memilih partai Islam. Haram memilih partai sekuler. Eh baru juga pemilu lewat, partai-partai Islam malah bersiap koalisi dengan partai-partai sekuler.
Kita patut mempertanyakan mereka yang menebar informasi sesat tersebut. Mengapa mereka tak lagi bilang haram berkoalisi dengan partai sekuler. Ke mana itu fatwa haram memilih partai sekuler? Di mana itu para ‘ulama’ yang menyeru memilih partai Islam? Kok sekarang tidak ada suaranya.
Pembaca yang dirahmati Allah, kami telah membahas berulang kali tentang sistem demokrasi ini. Ada soal prinsip, tujuan, konspirasi di baliknya, dan sebagainya dalam berbagai edisi yang berbeda. Ujung-ujungnya, sistem ini tidak akan membawa perubahan yang berarti bagi negeri ini.
Kalau hanya sekadar berubah, itu ya. Tapi itu perubahan yang tidak signifikan. Cuma ganti orang. Frame besarnya sama. Dan di edisi sebelumnya, kami pernah membahas betapa sebenarnya demokrasi ini adalah wujud hegemoni Amerika di negeri-negeri Islam.
Nah, salah satunya adalah bagaimana Amerika menentukan arah negeri ini dengan memberikan restu kepada presiden terpilih. Kami angkat topik ini dalam Media Utama kali ini. Apakah calon presiden yang beredar sekarang akan mampu melepaskan negeri ini dari penjajahan Amerika dan Barat? Simak pembahasannya.
Di rubrik Fokus Anda pun bisa menikmati sajian kami tentang keberadaan partai politik Islam, kini maupun di masa lalu.
Pembaca yang dirahmati Allah, ada yang baru di rubrik Kristologi, sejak dua edisi lalu, kami menampilkan pembahas yang berbeda secara bergiliran. Harapan kami, semoga model ini kian menambah informasi yang kami berikan.
Akhirnya, kami sampaikan selamat menikmati sajian kami kali ini. Semoga Anda makin bersemangat lagi memperjuangkan ajaran Islam agar terwujud dalam kehidupan.
Saran dan masukan senantiasa kami nantikan. Selamat membaca!
Source: http://ift.tt/1lq3Ld2
0 Response to "[127] Berebut Jadi Presiden Boneka"
Posting Komentar
Bagaimana menurut kamu??? hmmmmmmmm @_^;