Peter Nguyen membantu penulisan artikel ini. Hoang dan Peter adalah analis di Solidiance, perusahaan pemasaran B2B dan strategi pertumbuhan yang berfokus pada Asia yang ahli dalam bidang teknologi atau ICT, aplikasi industri, kesehatan, dan teknologi hijau.
Kesiapan Filipina menerima pembayaran online paling tinggi di Asia Tenggara
Ekspansi ekonomi yang pesat, populasi usia muda, dan adanya smartphone dan tablet yang murah membantu munculnya generasi modern di Asia Tenggara.
Pelaku e-commerce besar seperti Groupon, eBay, Rocket Internet, dan LivingSocial sudah ada di Asia Tenggara dan melakukan investasi yang signifikan ke pasar ini. Dengan meningkatnya penetrasi e-commerce di Asia Tenggara, perusahaan pembayaran besar seperti PayPal juga mulai ikut berinvestasi.
Tapi, persaingan ketat muncul dari berbagai nama lokal seperti MOL (Malaysia) dan 2C2P (Thailand). MOL sekarang adalah perusahaan pembayaran terbesar di Asia Tenggara dengan melayani 60 juta transaksi dan memiliki penghasilan USD 300 juta tiap tahunnya. 2C2P adalah perusahaan e-payment asal Thailand yang sama besarnya tapi sudah melakukan ekspansi dengan membuka kantor dan operasi di tujuh negara lain di Asia Tenggara.
Meskipun potensial, investor teknologi dan penyedia pembayaran global harus berhati-hati untuk masuk ke pasar teknologi Asia Tenggara dan harus memahami perbedaan budaya dan peraturan di tiap negara yang bisa mempengaruhi tingkah laku penjual dan pembeli.
Contohnya, masyarakat Filipina lebih mau menggunakan pembayaran mobile, sedangkan masyarakat Malaysia lebih suka pembayaran melalui web.
Dengan situasi yang berbeda-beda seperti itu, strategi yang dibuat khusus dengan mempertimbangkan keunikan perkembangan tiap pasar yang diukur berdasarkan teknologi, infrastruktur, pilihan pelanggan, dan aturan yang berlaku jauh lebih baik daripada rencana yang dibuat secara umum untuk wilayah tersebut.
Internet, jaringan mobile, dan perbankan
Tiga hal yang menjadi kunci agar infrastruktur yang ada bisa memfasilitasi pembayaran online adalah kemudahan akses internet, penggunaan mobile, dan penetrasi bank.
Kemudahan akses internet
Akses internet adalah kunci utama untuk meningkatkan pembayaran online. Enam kota dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara adalah pusat populasi online dengan 160 juta orang, padahal penetrasi internet di Asia Tenggara hanya mencapai 28 persen. Singapura memimpin wilayah ini dengan penetrasi internet yang mencapai 75 persen, sementara Indonesia memiliki penetrasi internet terendah di angka 22 persen.
Di semua negara, wilayah perkotaan punya tingkat penetrasi internet yang lebih tinggi dibandingkan daerah terpencil. Contohnya, penetrasi internet di dua kota terbesar Vietnam mencapai 50 persen, padahal secara nasional penetrasinya hanya 34 persen.
Penggunaan mobile
Sebagai faktor penting untuk mengekspansi pembayaran online dan memajukan industri teknologi secara keseluruhan, handphone sudah banyak digunakan di Asia Tenggara. Selain jangkauan jaringan yang bagus, jumlah langganan operator handphone biasanya melewati angka 100 dari 100 orang. Ini berarti ada banyak orang yang menggunakan kartu SIM ganda dan/atau dua handphone sekaligus. Hanya Myanmar yang perbandingannya berbeda – 11 dari 100 orang. Statistik ini dipimpin oleh Singapura dengan 153 langganan jaringan handphone per 100 orang.
Penetrasi bank
Penetrasi bank yang tinggi, terutama pada online banking, bisa mempercepat peningkatan angka pengguna pembayaran online. Meskipun pembayaran online masih bisa dilakukan tanpa menggunakan rekening bank, penggunaan kartu kredit dan debit dan juga online banking untuk mengisi e-wallet bisa membuat platform pembayaran online lebih mudah diakses.
Kebanyakan bank lokal sekarang menyediakan online banking dan platform yang aman agar bisa terhubung dengan pelanggan, pemasok, dan penjual untuk melayani transaksi online. Penetrasi bank di masing-masing negara bervariasi.
Di Singapura, hampir semua masyarakatnya punya rekening atau akun di institusi finansial. Tapi hanya 20 dari 100 masyarakat Indonesia yang punya akun atau rekening. Penggunaan kartu kredit juga sangat minim di wilayah ini. Hanya Singapura yang punya penetrasi kartu kredit sampai 38 persen sementara Malaysia ada di angka 12 persen. Tapi penetrasi kartu kredit di negara lain tidak ada yang lebih dari lima persen.
Jika kita memasukkan semua daerah terpencil di wilayah ini, angka penetrasinya hampir mencapai nol karena di wilayah seperti itu hampir tidak ada institusi keuangan formal.
Kesiapan pelanggan
Kesiapan pelanggan bisa menjadi tolak ukur seberapa terbiasa dan inginkah pelanggan menggunakan pembayaran online. Bahkan jika infrastrukturnya sudah bagus, pembayaran online tidak akan maju jika kesiapan pelanggannya masih kecil.
Persentase pembayaran internet adalah salah satu indikator untuk mengukur kesiapan sebuah negara untuk menggunakan pembayaran online. Negara-negara dengan persentase penggunaan pembayaran elektronik (debit atau transfer bank) yang lebih besar kemungkinan lebih siap menggunakan layanan pembayaran online yang lebih baru dan inovatif. Singapura jauh memimpin statistik untuk bagian ini.
Karena tingkat penetrasi bank membutuhkan waktu agar bisa meningkat di Asia Tenggara, pertumbuhan pembayaran online akan sangat bergantung pada penggunaan pembayaran mobile. Pembayaran mobile memungkinkan pengguna mengirimkan uang menggunakan pulsa handphone, bukan uang di rekening bank.
Filipina memimpin statistik pembayaran mobile di Asia Tenggara, melewati Singapura dan juga negara Asia Tenggara lainnya. Negara ini punya dua pemrakarsa uang mobile – Smart Money dari Smart yang diluncurkan tahun 2001, dan GCash dari Globe yang diluncurkan tahun 2004. Karena peluncuran Smart Money dan GCash inilah pelanggan Filipina banyak menggunakan layanan pembayaran mobile untuk melakukan berbagai macam transaksi, dari sekedar pengiriman uang sampai pembayaran tagihan.
Vietnam berada di peringkat tiga dalam pembayaran mobile, mereka tampak familiar dan mau mengadopsi metode pembayaran ini. Tapi minimnya dukungan dari pemerintah dan perusahaan telekomunikasi menghambat inovasi pembayaran online di negara tersebut.
Pelanggan di Indonesia belum tertarik dengan manfaat yang diberikan pembayaran mobile. Dilihat dari kesiapan, keinginan menggunakan, dan jumlah pengguna pembayaran mobile, Indonesia masih tertinggal dari negara lainnya.
Peraturan
Dengan banyaknya pihak yang saling terkait di sektor pembayaran online, peraturan dan legalitas yang efektif adalah hal yang vital dalam mempromosikan pembayaran mobile (ke siapapun), dan menjadi penentu kesuksesan layanan ini.
Laporan dari World Economic Forum (WEF) mengatakan bahwa Singapura memimpin dalam hal lingkungan politik dan peraturan untuk perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Efisiensi dan kondisi bisnis yang sangat bersahabat serta perlindungan terhadap properti intelektual membuat negara ini sangat cocok untuk industri teknologi.
Filipina berada di peringkat terbawah di antara enam negara besar Asia Tenggara karena aturan pemerintahnya yang menekan perkembangan serta kurang dikembangkannya peraturan terkait teknologi. Contohnya, Cybercrime Prevention Act di tahun 2012 dari negara itu, yang mengincar tindakan berbau kriminal yang dilakukan secara online, membuat pengguna internet marah karena aturan tersebut dianggap lebih mengatur ketimbang melindungi mereka. Aturan tersebut kemudian dicabut seminggu setelah dikeluarkan.
Tiap negara berada di fase kesiapan yang berbeda sehingga perlu pendekatan yang berbeda:
Singapura
Singapura memimpin kesiapan transisi menuju cashless society. Penetrasi internet dan banking yang tinggi, kesiapan pelanggan, serta peraturan yang sudah rapi membuka kesempatan untuk pengembangan pembayaran online di negara ini.
Malaysia
Malaysia berada di peringkat kedua. Tapi masyarakatnya lebih lambat dalam pengadopsian handphone sebagai alat pembayaran. Jumlah handphone yang banyak (serta jangkauan jaringannya yang luas) bisa memfasilitasi penggunaan pembayaran mobile jika perusahaan menggunakan pemasaran dan program edukasi pengguna yang tepat.
Filipina
Pengadopsian pembayaran mobile di Filipina tumbuh lebih cepat daripada negara lain. Tapi kurang berkembangnya peraturan di negara ini membuat perkembangan teknologinya terhambat. Selain membantu pemerintah memperbarui peraturannya, perusahaan bisa memanfaatkan kesiapan pelanggan dengan menyediakan layanan pembayaran tambahan.
Vietnam dan Thailand
Posisi Vietnam dan Thailand berada di tengah-tengah jika dibandingkan dengan negara lain. Kesempatan untuk mengekspansi layanan pembayaran mobile ke pengguna yang tidak memiliki rekening bank di Vietnam sebenarnya besar karena masyarakatnya cukup siap menggunakan pembayaran mobile. Tapi, di Thailand, pelanggan tampaknya belum begitu siap menerima pembayaran mobile, sehingga perusahaan harus berfokus melakukan pemasaran ke pelanggan bank.
Indonesia
Indonesia berada di peringkat terbawah terkait kesiapan menggunakan pembayaran online karena rendahnya kemudahan akses internet, penggunaan mobile, dan penetrasi online banking di negara tersebut. Perusahaan yang berada di Indonesia harus menerapkan teknologi dan pemasaran yang berfokus pada kelompok early adopter, dan mungkin dari sana bisa mendapat sukses dalam jangka panjang.
Source: http://id.berita.yahoo.com/siapkah-asia-tenggara-menggunakan-pembayaran-online-090029549.html
via HeniPutra.Net http://heniputra.net/siapkah-asia-tenggara-menggunakan-pembayaran-online.html
0 Response to "Siapkah Asia Tenggara menggunakan pembayaran online?"
Posting Komentar
Bagaimana menurut kamu??? hmmmmmmmm @_^;