Eksodus penduduk di sekitar kawasan rawan bencana letusan Gunung Merapi masih terjadi.Kondisi ini terjadi karena ketidakpastian berakhirnya aktivitas Merapi.
”Hingga saat ini, belum ada jawaban kapan bencana letusan Merapi ini akan berakhir,” kata Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Bibit Waluyo di Semarang kemarin. Jumlah pengungsi di tiga wilayah di lereng Merapi di Jateng saat ini sudah mencapai lebih dari 215.000 jiwa. Adapun total pengungsi Merapi hingga kemarin sudah mencapai 279.702 jiwa. Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memperkirakan jumlah pengungsi tersebut akan terus naik mengingat hingga saat ini satuan dari TNI,Polri, dan relawan masih melakukan penyisiran di rumahrumah warga dan menjemput warga yang masih bertahan.
”Warga yang dijemput akan dibawa ke pengungsian terdekat yang berjarak sekitar 20 km dari puncak Gunung Merapi,”katanya. Terhadap warga yang menolak dievakuasi, BNPB telah memutuskan untuk melakukan penjemputan paksa. ”Penjemputan paksa ini dimaksudkan untuk kebaikan bersama karena pemerintah telah menetapkan jarak aman 20 km sehingga masyarakat yang masih tinggal di bawah jarak aman akan dijemput paksa”katanya. Menurutnya,meskipun jumlah pengungsi diperkirakan terus mengalami kenaikan, tidak ada masalah berarti terkait daya tampung penampungan. Selain itu, mengenai logistik juga menurutnya tidak ada masalah, hanya saja pemerintah terus mendorong masyarakat untuk ikut membantu meringankan beban para pengungsi dengan ikut serta menyalurkan bantuan logistik.
“Pemerintah terus mendorong masyarakat yang mau membantu karena ini semua tidak lagi hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tugas bersama,” katanya. Ketua BNPB Syamsul Maarif meminta pemda untuk menerima berapa pun jumlah pengungsi, termasuk warga yang berasal dari daerah yang tidak dipetakan sebagai kawasan rawan bencana Merapi. Dia memahami kepanikan warga karena keadaan di lapangan saat ini sangat sulit untuk disesuaikan dengan teori tentang zona aman radius 20 km Merapi. ”Kita tidak pernah bisa mengendalikan warga yang panik karena suara gemuruh terus terdengar dalam dua hari terakhir,” katanya.
Dia menambahkan,pemkab setempat harus terus memetakan lokasi yang dapat digunakan sebagai posko pengungsian sementara karena eksodus warga masih berlangsung. Syamsul kemudian menuturkan bahwa pengungsi, terutama ibu-ibu dan anak-anak, di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, membutuhkan sandang atau pakaian untuk ganti di tempat pengungsian. Menurutnya, kebutuhan pakaian untuk mereka mendesak karena mereka selama di pengungsian hanya membawa pakaian ganti terbatas.Bahkan,di antaranya ada yang hanya membawa pakaian yang menempel di badannya saja. Selain itu, kata dia, pengungsi saat ini juga kekurangan air bersih dan MCK di tempat pengungsian.
Adapun pelayanan kesehatan pengungsi sudah baik, begitu pun obat-obatan masih cukup.“Ketersediaan logistik atau bahan makanan di Boyolali, Klaten, dan Magelang, dan Sleman semuanya tercukupi,” katanya. Syamsul Maarif juga mengungkapkan bahwa pemerintah kemungkinan akan memperpanjang masa tanggap darurat bencana Merapi karena kondisi vulkanik gunung ini tidak stabil hingga saat ini. ”Kemungkinan besar waktu tanggap darurat akan diperpanjang dari semula satu bulan sejak awal terjadinya letusan Merapi pada 26 Oktober lalu,”kata Syamsul di Klaten kemarin. Dengan demikian, BNPB meminta warga di kawasan Merapi, baik di Sleman, Klaten, Magelang maupun Boyolali untuk tetap bersabar dan menempati pengungsian hingga waktu yang belum dapat ditentukan.
Sekolah Darurat
Pemerintah daerah harus mendirikan sekolah darurat agar semangat belajar anak korban bencanadipengungsiantidakmenurun. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengharuskan proses belajar tetap dilakukan agar anak-anak tetap bersemangat sekolah setelah bencana melanda.Tidak hanya itu, dengan belajar anak-anak juga tidak akan bosan hidup selama hidup di pengungsian dan berpotensi untuk menghapus trauma akan musibah yang mereka alami.
Pemerintah daerah tidak diwajibkan untuk menggelar proses belajar layaknya sebelum bencana atau sekolah normal.Fasilitas seadanya tentu membuat proses belajar-mengajar dilakukan sederhana. Itu tidak jadi persoalan, yang penting semangat belajar anak didik tidak sampai menurun. “Anak-anak dan warga lain tidak berkehendak untuk mengungsi. Tetapi hal itu harus mereka jalani. Semangat harus ditumbuhkan agar mereka dapat hidup layaknya kehidupan normal,” katanya di Jakarta kemarin. Kalaupun siswa kekurangan jam belajar sehingga materi yang didapat terbatas, maka kekurangan materi dapat ditambah setelah kondisi membaik dengan menambah jam belajar.Agar anak tidak semakin stres, sebaiknya siswa tidak dibebankan dengan ulangan atau pekerjaan rumah yang terlalu berat.
Nuh mengatakan, jumlah pengungsi anakanak di Jawa Tengah masih terus bertambah,terakhir tercatat 8.000 anak di Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Magelang.Adapun pengungsi anak-anak di Yogyakarta mencapai 12.000. Penanganan trauma yang dilakukan para relawan juga harus disambut baik.Kegiatan bermain, bercerita,dan menggambar pemandangan Gunung Merapi di tempat pengungsian bisa menjadi obat bagi anak korban bencana tersebut.
Selain dengan relawan,Kemendiknas akan melibatkan perguruan tinggi untuk meneliti kehidupan di lereng Gunung Merapi.“(Hasil) penelitian akan dibagikan kepada masyarakat agar masyarakat sekitar dapat mengenali fenomena merapi dan hidup berdampingan dengan Merapi,” ungkapnya. (priyo setiawan/maha deva/neneng zubaidah. seputar-indonesia.com
”Hingga saat ini, belum ada jawaban kapan bencana letusan Merapi ini akan berakhir,” kata Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Bibit Waluyo di Semarang kemarin. Jumlah pengungsi di tiga wilayah di lereng Merapi di Jateng saat ini sudah mencapai lebih dari 215.000 jiwa. Adapun total pengungsi Merapi hingga kemarin sudah mencapai 279.702 jiwa. Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memperkirakan jumlah pengungsi tersebut akan terus naik mengingat hingga saat ini satuan dari TNI,Polri, dan relawan masih melakukan penyisiran di rumahrumah warga dan menjemput warga yang masih bertahan.
”Warga yang dijemput akan dibawa ke pengungsian terdekat yang berjarak sekitar 20 km dari puncak Gunung Merapi,”katanya. Terhadap warga yang menolak dievakuasi, BNPB telah memutuskan untuk melakukan penjemputan paksa. ”Penjemputan paksa ini dimaksudkan untuk kebaikan bersama karena pemerintah telah menetapkan jarak aman 20 km sehingga masyarakat yang masih tinggal di bawah jarak aman akan dijemput paksa”katanya. Menurutnya,meskipun jumlah pengungsi diperkirakan terus mengalami kenaikan, tidak ada masalah berarti terkait daya tampung penampungan. Selain itu, mengenai logistik juga menurutnya tidak ada masalah, hanya saja pemerintah terus mendorong masyarakat untuk ikut membantu meringankan beban para pengungsi dengan ikut serta menyalurkan bantuan logistik.
“Pemerintah terus mendorong masyarakat yang mau membantu karena ini semua tidak lagi hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tugas bersama,” katanya. Ketua BNPB Syamsul Maarif meminta pemda untuk menerima berapa pun jumlah pengungsi, termasuk warga yang berasal dari daerah yang tidak dipetakan sebagai kawasan rawan bencana Merapi. Dia memahami kepanikan warga karena keadaan di lapangan saat ini sangat sulit untuk disesuaikan dengan teori tentang zona aman radius 20 km Merapi. ”Kita tidak pernah bisa mengendalikan warga yang panik karena suara gemuruh terus terdengar dalam dua hari terakhir,” katanya.
Dia menambahkan,pemkab setempat harus terus memetakan lokasi yang dapat digunakan sebagai posko pengungsian sementara karena eksodus warga masih berlangsung. Syamsul kemudian menuturkan bahwa pengungsi, terutama ibu-ibu dan anak-anak, di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, membutuhkan sandang atau pakaian untuk ganti di tempat pengungsian. Menurutnya, kebutuhan pakaian untuk mereka mendesak karena mereka selama di pengungsian hanya membawa pakaian ganti terbatas.Bahkan,di antaranya ada yang hanya membawa pakaian yang menempel di badannya saja. Selain itu, kata dia, pengungsi saat ini juga kekurangan air bersih dan MCK di tempat pengungsian.
Adapun pelayanan kesehatan pengungsi sudah baik, begitu pun obat-obatan masih cukup.“Ketersediaan logistik atau bahan makanan di Boyolali, Klaten, dan Magelang, dan Sleman semuanya tercukupi,” katanya. Syamsul Maarif juga mengungkapkan bahwa pemerintah kemungkinan akan memperpanjang masa tanggap darurat bencana Merapi karena kondisi vulkanik gunung ini tidak stabil hingga saat ini. ”Kemungkinan besar waktu tanggap darurat akan diperpanjang dari semula satu bulan sejak awal terjadinya letusan Merapi pada 26 Oktober lalu,”kata Syamsul di Klaten kemarin. Dengan demikian, BNPB meminta warga di kawasan Merapi, baik di Sleman, Klaten, Magelang maupun Boyolali untuk tetap bersabar dan menempati pengungsian hingga waktu yang belum dapat ditentukan.
Sekolah Darurat
Pemerintah daerah harus mendirikan sekolah darurat agar semangat belajar anak korban bencanadipengungsiantidakmenurun. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengharuskan proses belajar tetap dilakukan agar anak-anak tetap bersemangat sekolah setelah bencana melanda.Tidak hanya itu, dengan belajar anak-anak juga tidak akan bosan hidup selama hidup di pengungsian dan berpotensi untuk menghapus trauma akan musibah yang mereka alami.
Pemerintah daerah tidak diwajibkan untuk menggelar proses belajar layaknya sebelum bencana atau sekolah normal.Fasilitas seadanya tentu membuat proses belajar-mengajar dilakukan sederhana. Itu tidak jadi persoalan, yang penting semangat belajar anak didik tidak sampai menurun. “Anak-anak dan warga lain tidak berkehendak untuk mengungsi. Tetapi hal itu harus mereka jalani. Semangat harus ditumbuhkan agar mereka dapat hidup layaknya kehidupan normal,” katanya di Jakarta kemarin. Kalaupun siswa kekurangan jam belajar sehingga materi yang didapat terbatas, maka kekurangan materi dapat ditambah setelah kondisi membaik dengan menambah jam belajar.Agar anak tidak semakin stres, sebaiknya siswa tidak dibebankan dengan ulangan atau pekerjaan rumah yang terlalu berat.
Nuh mengatakan, jumlah pengungsi anakanak di Jawa Tengah masih terus bertambah,terakhir tercatat 8.000 anak di Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Magelang.Adapun pengungsi anak-anak di Yogyakarta mencapai 12.000. Penanganan trauma yang dilakukan para relawan juga harus disambut baik.Kegiatan bermain, bercerita,dan menggambar pemandangan Gunung Merapi di tempat pengungsian bisa menjadi obat bagi anak korban bencana tersebut.
Selain dengan relawan,Kemendiknas akan melibatkan perguruan tinggi untuk meneliti kehidupan di lereng Gunung Merapi.“(Hasil) penelitian akan dibagikan kepada masyarakat agar masyarakat sekitar dapat mengenali fenomena merapi dan hidup berdampingan dengan Merapi,” ungkapnya. (priyo setiawan/maha deva/neneng zubaidah. seputar-indonesia.com
0 Response to "Pengungsi Capai 279.702 Jiwa"
Posting Komentar
Bagaimana menurut kamu??? hmmmmmmmm @_^;